Bekebun Sambil Berolahraga di Bantaran BKT

Gotong royong warga RT 03/RW 13, Kelurahan Kencana, Tanah Sareal, Bogor.

Jakarta, Kabarpangan.com – Cuaca cerah mengiringi langkah sejumlah orang menuju bantaran Banjir Kanal Timur (BKT) di Jakarta Timur. Dengan membawa peralatan seperti cangkul dan sabit, mereka kemudian menuruni tembok bantaran kali. Seutas tali dan tangga seadanya menjadi penolong untuk turun agar sampai lahan di bantaran.
Ketika siang, mereka pun naik dengan peralatan sederhana itu. Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan sudah bertahun-tahun mereka jalani rutinitas itu.
Tak ada keluhan. Tak ada pula keluh-kesah karena keadaan seperti itu harus dijalani.

Siapa mereka? Untuk apa pula ke bantaran kali? Merekalah para petani yang menanam beragam tanaman pangan di bantaran kali itu. Dari rutinitas itu, beragam kebutuhan pangan mereka hasilkan.
Mulai dari singkong, pisang, hingga jagung. Begitu juga beragam sayuran, mulai dari kangkung, bayam, pepaya, kacang panjang, terong, daun katuk, hingga cabai.
Juga jahe, kencur, dan lengkuas. Bengkoang, tomat, labu parang, dan sereh ada pula di sana.

Dengan perawatan rutin, beragam jenis tanaman itu bisa tumbuh subur di bantaran BKT. Ketersediaan air sepanjang tahun, menjadikan bantaran kali menghasilkan aneka kebutuhan dapur sepanjang waktu.

Rindang

Kini, menelusuri BKT, bukan hanya menikmati udara sejuk dan rindangnya pohon-pohon yang tumbuh besar di pinggir jalan inspeksi, melainkan juga kehijauan tanaman di bantarannya. Itulah BKT yang sekarang. Kerindangan dan kesejukannya menjadi daya tarik bagi sebagian warga Ibu Kota untuk menikmatinya. Tak jarang ada keluarga duduk-duduk di atas bantaran pada pagi atau sore di akhir pekan untuk melihat aliran kali dan aktivitas petani di bawahnya.

Selain upaya pemerintah menata BKT menjadi kawasan yang rapi, rindang, dan sejuk, ada juga peran warga yang bertani. Atas prakarsa mandiri dan inisiatif mereka, kini BKT memiliki bantaran yang menghasilkan beragam kebutuhan sehari-hari.
Peran warga ada pada pemanfaatan lahan di bantaran untuk bertani. Mereka yang kerap disebut petani perkotaan itu jumlahnya puluhan, bahkan mungkin ratusan orang.
Entah berapa jumlah pastinya. Mereka beraktivitas di sepanjang BKT yang memanjang dari Cipinang Cempedak di Jakarta Timur hingga Marunda di Jakarta Utara.

Salah satunya, Sulistyo Pambudi Utomo, warga kompleks Perumahan Duren Sawit Baru (Jakarta Timur). Pensiunan aparatur sipil negara pada Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007 itu bertani di bantaran BKT sejak 3 tahun lalu.
Awalnya, dia sejumlah warga lainnya melihat bantaran BKT sebagai lahan kosong yang mubazir. Dia pun menghadap pimpinan Kelurahan Duren Sawit untuk menanyakan kemungkinan memanfaatkan lahan itu.
“Waktu itu pihak kelurahan melalui Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) tidak melarang tetapi juga tidak menyuruh,” katanya saat ditemui di lokasi bertaninya di bantaran BKT pada hari Sabtu (7/11).

Dia pun berkoordinasi dengan pihak terkait BKT, antara lain Dinas Sumber Daya Air (SDA) dan Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta. Niatnya untuk memanfaatkan lahan di bantaran BKT terwujud setelah ada “lampu hijau” dari instansi terkait.
Hanya saja, seperti ditulis Antara, tanaman yang dibudidaya harus berumur pendek. Itu diterjemahkan dengan menanam beragam sayuran berumur 1-3 bulan.
Selain sayuran, tanaman yang pohonnya jenis perdu, seperti terong dan tomat boleh dibudi daya di sini. Yang penting bukan tanaman keras seperti pepohonan. Ada juga tanaman yang berumur panjang dan bukan jenis kayu diperbolehkan oleh pihak terkait. “Pepaya ini tumbuh bagus, mudah-mudahan segera berbuah,” kata petani yang biasa disapa Pak Top ini.
Tapi Pak Top dan petani lainnya tidak tahu pasti luas lahan bantaran yang digarap. Dia hanya tahu tanamannya sepanjang tujuh tiang listrik, dari jembatan satu ke jembatan lainnya.

Lahan di bantaran itu terbagi dua lapis: bagian atas dan bawah. Para penggarap berbagi luasan berdasarkan kesepakatan dan kondisi yang ada.
Kian hari rutinitasnya mendapat perhatian warga lainnya. Sejumlah warga pun mengikuti jejaknya mengolah lahan bantaran itu. Di antara mereka ada yang ingin bertani untuk berkegiatan mengisi hari-harinya selama pandemi Covid-19. Kesibukan bertani diyakini menyehatkan badan karena kegiatan bidang lain banyak terdampak pandemi.

“Daripada termenung dan merenungi corona yang entah sampai kapan. Terasa sekali enak di badan,” kata petani lainnya.
“Ini seperti olahraga tetapi menghasilkan kebutuhan buat sehari-hari di rumah,” kata yang lain. [KP-05]

kabarpangan.com || kabarpangan.id@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*